EKOSISTEM DANAU
Restu Yulia
11/318230/PN/12531
Teknologi Hasil Perikanan
INTISARI
Danau memiliki manfaat
yang sangat besar dalam memenuhi kebutuhan manusia. Namun, karena manfaatnya
yang sangat besar, danau terkadang dieksploitasi secara berlebihan dan tidak
jarang dicemari dengan sampah dan limbah manusia yang dapat menurunkan kadar
kualitas perairannya. Karakteristik ekosistem danau dan faktor-faktor
pembatasnya dipelajari pada praktikum ini. Cara-cara pengambilan parameter,
korelasi antara parameter dan penentuan kualitas perairan jug dipelajari dan
menjadi dasar utama tujuan praktikum ini yang diadakan di Tambak Bayan tanggal
1 April 2012. Manfaatnya yaitu agar kualitas perairan dapat ditentukan dalam
upaya optimalisasi pemanfaatannya. Metode praktikum ini dengan menggunakan
metode pengamatan langsung dan metode pengambilan sampel yang kemudian diukur
dan ditentukan nilai dari berbagai parameter yang diamati. Hasil dari
pengamatan dapat disimpulkan bahwa Tambak Bayan sudah tercemar dengan skala
pencemaran sedang dan diharapkan semua komponen masyarakat pemangku kepentingan
turut menjaga kualitas perairan agar kelestarian perairan dan pemanfaatannya
dapat berjalan secara baik dan terus-menerus.
Kata Kunci :
danau, kualitas air, lentik, parameter, skala pemcemaran
PENDAHULUAN
Air merupakan
sumber kehidupan manusia dibumi ini. Danau adalah wilayah yang digenangi badan
air sepanjang tahun serta terbentuk secara alami. (Kordi, 2007). Danau alami
ataupun buatan menjadi sumber air utama saat terjadi kekeringan. Ekosistem air
tawar didanau merupakan ekosistem yang paling banyak dipelajari, karena hewan
dan tumbuhan yang ada di danau adalah bagian dari sistem interaksi dinamis,
dengan satu bagian berpengaruh terhadap bagian lainnya. Danau mempunyai nilai
yang sangat penting ditinjau dari fungsi ekologi, hidrologi serta fungsi
ekonomi. Hal ini berkaitan dengan fungsi Danau sebagai habitat berbagai jenis
organisme air, sebagai sumber air minum bagi masyarakat sekitarnya, sebagai
sumber air untuk kegiatan pertanian dan budi daya perikanan serta untuk
menunjang berbagai jenis industri, seperti kebutuhan air untuk industri pembangkit listrik. Tak
kalah pentingnya adalah
fungsi Danau sebagai kawasan wisata yang memiliki keindahan alam yagn tidak
jarang dapat menarik wisatawan. Oleh sebab itu, pengelolaan danu harus
dioptimalkan dan dijaga kelestariannya.
Danau, waduk dan rawa merupakan
perairan tergenang (lentik). Danau biasanya mengalami stratifikasi secara
vertikal akibat perbedaan intensitas cahaya dan perbedaan suhu kolom air yang
terjadi secara vertikal (Effendi, 2003). Air danau biasanya bersifat jernih dan
keberadaan tumbuhan air terbatas hanya pada daerah pinggir saja (Barus, 2004).
Ciri-cirinya adalah arus yang sangat lambat (0,001-0,01m/sekon) atau
tidak ada arus sama sekali. Arus dapat bergerak ke berbagai arah dan memiliki
stratifikasi kualitas air secara vertikal yang tergantung pada kedalaman dan
musim (Cole, 1988). Danau memiliki tiga zona yang berbeda, yaitu zona litoral
(dekat tepi di mana tumbuhan berakar dapat dijumpai), zona limnetik (lapisan
permukaan perairan dengan sinar matahari dapat menembusnya dan didominasi oleh
plankton dan ikan), zona profundal (perairan dalam yang tidak dapat ditembus
sinar matahari dan dihuni oleh organisme bentos) (Soegianto, 2005). Danau
biasanya mempunyai aliran keluar sehingga airnya tidak mengandung timbunan
mineral (Sastrodinoto, 1980).
Praktikum ekosistem danau bertujuan untuk mempelajari
karakteristik ekosistem lentik (perairan menggenang) dan faktor-faktor
pembatasnya. Selain itu, mempelajari cara-cara pengambilan data parameter
fisik, kimia, dan biologiknya kemudian dicari korelasinya dengan biota perairan
(plankton). Yang terpenting adalah mempelajari kualitas air berdasarkan indeks
diversitas biota perairan.
METODOLOGI
Praktikum dilaksanakan pada hari
Minggu, 1 April 2012 di Tambak
Boyo,Sleman, Yogyakarta. Langkah kerjanya dimulai dengan membagi perairan danau
menjadi enam stasiun pengamatan kemudian pada masing-masing stasiun mengambil
data pada titik permukaan dan dasar perairan dengan menggunakan water sampler serta mengambil cuplikan
plankton dengan jaring plankton. Selain itu, dilakukan pengukuran parameter
lingkungan seperti suhu, pH, kandungan O2 terlarut dengan metode
Winkler, CO2 bebas dan alkalinitas dengan metode Alkalimetri, bahan
organik (BO), BOD5, kandungan padatan tersuspensi total (TSS) dengan
metode Gravimetri, serta vegetasi/flora di sekitar lokasi pengamatan. Plankton
diamati dan dihitung di bawah mikroskop dengan Sedgwick Rafter counting cell (SR) bervolume 1 mL dan densitas
plankton dinyatakan dalam satuan individu per volume air, sedangkan indeks
diversitasnya dihitung dengan rumus Shannon-Wiener:
. Rumus DO metode Winkler ().
Rumus kandungan CO2 bebas
).
Rumus alkalinitas (
), dengan V adalah
volume titrasi. Kandungan padatan tersuspensi total=
, dengan B adalah berat
kertas saring kering yang telah digunakan untuk menyaring dan A adalah berat
kertas saring kering sebelum digunakan. Selain itu, rumus BOD5=
, dengan A adalah
volume kandungan O2 terlarut segera dan B adalah volume setelah lima
hari.





Bahan-bahan yang digunakan yaitu: kertas
saring (milipore) diameter pori 0,45
μm, timbangan analitik, larutan MnSO4, reagen
oksigen, H2SO4 pekat, 1/80N Na2S2O3,
1/44N NaOH, 1/50N H2SO4, 1/50N HCl, indikator amilum,
indikator Phenolphtalein (PP), indikator Methyl Orange (MO), indikator
Bromcresol Green/Methyl Red (BCG/MR), 4N H2SO4, 0,1N
Kalium Permanganat, 0,1N Ammonium Oksalat, dan larutan formalin 4%. Sedangkan
peralatannya berupa pH-meter, water sampler, meteran, termometer, botol
oksigen, Erlenmeyer, gelas ukur, pipet ukur, pipet tetes, mikroburet, aerator,
ember plastik, jaring plankton, kertas label, dan alat tulis.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Kondisi danau
dari stasiun ini ditinjau dari pengamatan parameter yang dibagi menjadi
parameter fisik, kimia dan biologi. Parameter fisik meliputi suhu udara, suhu
air, kecerahan dan warna air. Suhu udara 29°C berada pada toleransi suhu normal
dan suhu air yaitu 27°C. Suhu memiliki hubungan erat dengan kandungan oksigen
terlarut. Semakin tinggi suhu perairan maka semakin rendah kadar Donya,
begitupun sebaliknya semakin rendah suhu maka kadar DO akan semakin tinggi. Hal
ini berbeda dengan kadar CO2 karena peningkatan suhu menyebabkan terjadinya
peningkatan dekomposisi bahan organik sehingga kadar CO2 pun semakin meningkat
(Effendi,2003).
Sementara itu, pada kebanyakan
perairan bersuhu rendah kandungan plankton akan semakin banyak, hal tersebut
tentu saja dipengaruhi oleh peningkatan kadar DO sebagai penunjang utama
kegiatan metabolisme organisme. Jadi suhu berbanding terbalik dengan kadar DO
dan plankton.
Kecerahan danau pada stasiun ini
yaitu 76,5 m. Nilai ini tergolong tinggi diakibatkan oleh adanya bahan organik
dan anorganik yang tersuspensi/terlarut. Apabila nilai kecerahan air <25 cm
maka akan sangat berpengaruh pada organisme perairan seperti kultur plankton
yang dapat mati dan penurunan DO (SITH, 2009). Kecerahan erat kaitannya dengan
TSS dan BO. Hal ini disebabkan karena TSS dan DO adalah suspensi terlarut dalam
air yang mampu mempengaruhi dan menghalang partikel cahaya matahari menembus
molekul air sehingga menyebabkan pantulan keruh dan tidak cerah. Pada stasiun
ini didapati kadar TSS sebesar 28,6 ppm. Nilai ini tergolong rendah, oleh
karena itu kecerahannya tinggi. Dan kadar BO nya adalah 25,30 ppm.
Warna air pada stasiun tiga berwarna
hijau kehitaman. Warna perairan disebabkan oleh adanya pengaruh yang
ditimbulkan dari bahan organik dan bahan anorganik; keberadaan plankton, humus
dan ion-ion logam serta bahan-bahan lain (Effendi,2003). Sehingga warna air
berkaitan dengan kecerahannya. Air yang memiliki nilai kekeruhan rendah biasanya
memiliki warna tampak dan warna seseungguhnya sama dengan standar (APHA,1976).
Jadi, warna air berbanding lurus dengan kecerahannya sehingga akan memiliki
kecerahan yang rendah bila warna air semakin pekat (tidak bening) dan keragaman
warna (merah,kuning,hijau,coklat) akan semakin khas bila kadar TSS dan BO
semakin meningkat. Akan tetapi, intensitas warna akan semakin meningkat dengan
meningkatnya nilai pH yang justru dapat mengurangi kadar DO dan menambah kadar
CO2 dalam air. Berdasarkan warna pada stasiun tiga, maka dapat
dianalisis bahwa di danau tersebut terdapat banyak plankton. Maka didapati
densitas dan diversitas plankton berurutan adalah 21,5 idv/L dan
0,3.
Kadar oksigen terlarut (DO) pada
stasiun ini adalah 7,7 ppm, nilai ini tergolong pada keadaan normal, yaitu 5-8
ppm (Effendi, 2003). Sedangkan kadar CO2 di stasiun ini adalah 7
ppm. Nilai ini cukup untuk rendah, ini menyebabkan banyaknya plankton yang ada
di perairan ini. Alkalinitas merupakan konsentrasi dari unsur basa yang
bersifat penyangga. Nilai alkalinita pada stasiun tiga yaitu 100 ppm. Menurut
SITH (2009), nilai tersebut berada pada kisaran normal antara 80-120 ppm. Nilai
alkalinitas berbanding lurus dengan nilai pH yaitu 7,3. Karena sifat basa pada
alkalinitas menyebabkan tingginya nilai pH.
Vegetasi pada stasiun ini cukup
beragam. Floranya meliputi putri malu, cemara, pohon pisang dan rumput-rumput
liat yang tumbuh disekitar perairan. Faunanya meliputi beberapa jenis belalang,
burung kecil, kupu-kupu, jangkrik dan beberapa jenis serangga yang menghuni
daerah tempat flora berada, sementara itu fauna di dalam perairan meliputi
macam-macam ikan dan beberapa jenis organisme air seperti bekicot dan laba-laba
air. Nilai keragaman ini tergolong sedang, padahal vegetasi lingkungan dapat
mengurangi tingkat pencemaran pada perairan terutama pencemaran akibat gas dan
bahan organik.
Beberapa parameter fisik yang
diamati adalah suhu air dan udara, kecerahan dan warna air. Berdasarkan
pengamatan, suhu air pada semua stasiun memiliki selisih yang kecil, yaitu
antara 24-28°C dan suhu udara antara 25-30°C. Hal ini disebabkan kondisi
vegetasi lingkungan sekitar sungai dan intensitas penyinaran matahari yang
relatif sama dan merata.

Gambar
1. Grafik Suhu Air Vs Stasiun

Gambar
2. Grafik Suhu Udara Vs Stasiun
Sedangkan berdasarkan parameter
kimia, kadar DO, CO2, alkalinitas, pH, TSS dan BO sangat beragam.
Berdasarkan grafik, dapat disimpulkan bahwa stasiun 7 memiliki tingkat
pencemaran yang paling tinggi karena memiliki kadar DO yang paling rendah.
Sedangkan stasiun 8 memiliki tingkat pencemaran yang rendah karena memiliki
kandungan DO yang paling tinggi. Walaupun stasiun 7 dan 8 berdekatan, tetapi
vegetasi flora dan fauna di sekitar lokasi sangat mempengaruhi aktivitas
mikrobia.

Gambar
3. Grafik DO Vs Stasiun
Sedangkan berdasarkan parameter CO2
bebas, didapati bahwa pada stasiun 2 memiliki kadar CO2 bebas yang
paling tinggi, yaitu 17 ppm. Sedangkan stasiun yang memiliki kadar CO2
bebas yang paling rendah adalah pada stasiun 4, yaitu 5,4 ppm. Ini berarti
pencemaran pada stasiun 4 sangat minimum. Rendahnya CO2 bebas juga
dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas metabolisme. Ini berarti pada stasiun 4
lebih banyak terjadi fotosintesis dibandingkan dengan stasiun lain. Misalnya
banyaknya fitoplankton di stasiun ini menyebabkan proses fotosintesis
meningkat. Oleh karena itu konsumsi oksigen dan kelarutan gas meningkat. Kadar
CO2 bebas antar stasiun berkisar antara 5-12 ppm.

Gambar
4. Grafik CO2 bebas Vs Stasiun
Sedangkan berdasarkan pengamatan BO,
didapati nilai BO yang paling tinggi yaitu pada stasiun 3 dengan nilai 25,3
ppm, sedangkan stasiun yang memiliki nilai BO terendah adalah stasiun 7, yaitu
5,44 ppm. Tinggi atau rendahnya nilai BO dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Diantaranya nilai DO. Semakin tinggi nilai BO maka nilai DO semakin menurun.
Jika DO nya rendah maka suhu sekitar lokasi akan meningkat. Meningkatnya suhu
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya karena terjadi peningkatan reaksi
kimia/metabolisme, kelarutan gas yang meningkat dan konsumsi oksigen yang
meningkat.

Gambar
5. Grafik BO Vs Stasiun
Pada pengamatan alkalinitas,
berkisar antara 22-212 ppm. Nilai ini sangat signifikan. Masing-masing stasiun
mempunyai pencemaran yang berbeda-beda. Stasiun yang memiliki alkalinitas
paling tinggi adalah stasiun 1, yaitu 212,5 ppm. Berarti stasiun ini memiliki
pencemaran yang tinggi sehingga kadar CO2 bebasnya meningkat juga.
Jika keduanya meningkat, maka buffer juga akan meningkat. Sehingga airnya asam.
Sedangkan yang memiliki nilai alkalinitas terendah adalah satsiun 9, yaitu 22,9
ppm. Maka sebaliknya, jika kadar alkalinitas rendah, maka kadar keasaman juga
menurun.

Gambar
6. pH Vs Stasiun

Gambar
7. Grafik TSS Vs Stasiun
Sedangkan berdasarkan pengamatan pH,
semua stasiun memiliki kondisi yang stabil, yaitu antara 7,21 – 7,69 nilai ini
diseimbangkan dengan nilai alkalinitas yang relatif tinggi, sehingga bisa menjaga kenetralan air
seperti yang disebutkan sebelumnya. Sedangkan kandungan TSS pada semua stasiun
yaitu antara 28,6-630 gr. Kadar TSS sangat mempengaruhi penetrasi cahaya. Jika
kadar TSS meningkat, maka kekeruhan akan meningkat sehingga penetrasi
berkurang. Jika penetrasi berkurang maka menyebabkan penghambatan proses foto
sintesis oleh fitoplankton. Jika fotosintesis terhambat, maka kadar CO2
bebasnya meningkat juga.

Gambar
8. Grafik TSS Vs Stasiun
Berdasarkan kandungan BOD5, stasiun
10 memiliki nilai yang paling rendah, yaitu 1,96 ppm. Hal ini disebabkan karena
salah satu penyebabnya adalah tingginya kadar DO. Dan stasiun yang memiliki
nilai BOD5 yang paling tinggi adalah stasiun 6, yaitu 3,24 ppm. Hal ini
disebabkan karena rendahnya kadar DO.
Parameter
biologi yang diamati adalah densitas dan diversitas plankton. Sebagai organisme
perairan, maka kadar/jumlah plankton dipengaruhi oleh kadar O2, CO2,
suhu, kecerahan, pH, TSS, alkalinitas dan BO. Nilai parameter-parameter ini
yang bersifat stabil akan membuat stabilita dan optimalitas pertumbuhan
plankton, sebaliknya bila kadar CO2, BO, pH dan TSS misalnya terlalu
berlebihan dapat membuat kehidupan dan pertumbuhannya tidak stabil bahkan
lethal (mati).

Gambar
9. Grafik Densitas Plankton Vs Stasiun
Berdasarkan
grafik, didapati stasiun yang memiliki densitas plankton paling tinggi adalah
stasiun 8, yaitu 47,75. Sedangkan yang terendah adalah stasiun 10 yaitu 8,75.
Nilai tersebut dipengaruhi oleh banyak parameter lain yang saling bersangkutan.
Diantaranya penetrasi cahaya yang membuat plankton bisa melakukan fotosintesis.
Jika intensitas cahaya semakin tinggi, maka pertumbuhan plankton akan stabil.
Sedangkan stasiun yang memiliki diversitas paling tinggi adalah pada stasiun 1,
yaitu 2,80 ind/L. Nilai ini tergolong baik. Sedangkan stasiun yang
memiliki nilai diversitas plankton paling rendah adalah stasiun 3, yaitu 0,3 ind/L.
Nilai ini tergolong buruk. Baik buruknya nilai diversitas plankton terpacu
dalam tabel kualitas [erairan berikut:
Tabel Kualitas Perairan
Tolak Ukur
|
Kualitas Perairan
|
||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
Sangat Buruk
|
Buruk
|
Sedang
|
Baik
|
Sangat Baik
|
|
Indeks Diversitas
|
≤ 0,80
|
0,81-1,60
|
1,61-2,40
|
2,41-3,20
|
≥3,21
|
(Sumber:
Probosunu,1991)
Densitas dan
diversitas plankton juga dapat dijadikan indikator dalam menelaah kualitas
suatu perairan karena perairan yang subur cenderung memiliki plankton dalam jumlah
besar dan beragam. Nilai diversitas plankton pada stasiun lima tergolong pada
derajat pencemaran yang belum tercemar bila disesuaikan berdasarkan klasifikasi
derajat pencemaran perairan sebagai berikut :
Tabel Derajat Pencemaran
Tolak Ukur
|
Derajat Pencemaran
|
|||
1
|
2
|
3
|
4
|
|
Belum Tercemar
|
Tercemar Ringan
|
Tercemar Sedang
|
Tercemar Berat
|
|
Indeks Diversitas
|
>2,0
|
1,6 – 2,0
|
1,0 – 1,5
|
<1,0
|
(Sumber
: Probosunu, 1991)
Kondisi danau
secara keseluruhan berdasarkan pengamatan fisik, kimia dan biologik tergolong
kedalam perairan dengan derajat pencemaran tercemar, dengan rata-rata indeks
diversitas plankton 1,67 ind/L. Hal ini disebabkan oleh polusi air
yang diakibatkan sampah dan limbah pembuangan yang melebihi daya dukung
lingkungan dan vegetasinya.
KESIMPULAN
Karakteristik perairan lentik/danau dititik beratkan pada
daerahnya yang terbuka dengan sistem perairan tertutup/tergenang. Setiap
parameter fisik, biologi dan kimia selalu berhubungan dan menimbulkan dampak
atau pengaruh pada rendah dan tingginya nilai parameter tersebut. Populasi
biota perairan khususnya plankton dipengaruhi oleh parameter fisik dan kimia karena
parameter ini berhubungan langsung pada kemampuan metabolisme dan kehidupan
plankton. Kepadatan dan keragaman plankton pun dapat dijadikan tolak ukur
kualitas suatu perairan. Semakin tinggi tingkat keragamannya maka kualitas
airnya pun akan semakin tinggi, tetapi jika keragamannya semakin rendah maka
kualitas airnya akan semakin rendah pula dan mengindikatori tingkat pencemaran
danau tersebut.
SARAN
Sebaiknya masyarakat, pemerintah dan instansi terkait
turut menjaga kualitas perairan danau tersebut agar sumber daya alam di
perairan danau dapat dimanfaatkan dengan optimal. Danau sebaiknya tidak
dicemari dengan sampah dan limbah beracun yang berdampak buruk pada kehidupan
organisme pada ekosistem danau. Dalam pelaksanaan praktikum sebaiknya dilakukan
dengan sungguh-sungguh dan tidak dimanipulasi atau dikira-kira agar data yang
didapat valid sesuai dengan keadaan saat praktikum dilaksanakan.
DAFTAR PUSTAKA
APHA-AWWA-WEF. 1995. Standard Methods for The Examination
of Water and Wastewater. American Public Health Association,
Washington.
Barus,
T. A. 2004. Pengantar Limnologi: Studi
tentang Ekosistem Air Daratan. USU Press. Medan.
Cole,
G.A. 1988. Textbook of Limnology Third
Edition. Wavelaland Press, Inc., Illionis, USA.
Effendi,
H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi
Pengelolaan Sumber Daya Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta.
Kordi,
M. G. H. 2007. Pengelolaan Kualitas Air. Rineka
Cipta. Jakarta.
Sastrodinoto,
S. 1980. Biologi Umum III. Gramedia.
Jakarta.
Probosunu, N. 1999. Pengantar Pengendalian Pencemaran Perairan.
Jurusan Perikanan
Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
SITH. 2009. Teknologi Pengelolaan Kualitas Air. Institut
Teknologi Bandung, Bandung.
Soegianto,
Agoes. 2005. Ilmu Lingkungan Sarana
Menuju Masyarakat Berkelanjutan. Airlangga University Press. Surabaya.
0 comments:
Post a Comment