Monday

Ekosistem Sungai Tambak Bayan - Yogyakarta


EKOSISTEM SUNGAI
Restu Yulia
11/318230/PN/12531
Teknologi Hasil Perikanan


INTISARI
Sungai merupakan sumber air yang menyediakan komponen terpenting bagi kehidupan. Ekosistem sungai dipengaruhi oleh kecepatan arus, erosi dan sedimentasi. Faktor-faktor kimia seperti DO, kadar CO2 bebas, alkalinitas dan pH juga mempengaruhi. Pengoptimalisasian pemanfaatan dilakukan dengan mengkaji kondisi air sungai terlebih dahulu. Oleh karena itu praktikum ini bertujuan untuk mengetahui parameter atau tolak ukur lingkungan dan korelasinya sebagai indikator kualitas air di sungai Tambak Bayan, Sleman pada tanggal 22 Maret 2012. Metode yang digunakan adalah metode pengamatan langsung dan pengambilan sampel untuk dianalisis kandungan parameternya, baik kimia ataupun biologi. Nilai parameter yang telah dihitung, dibandingkan dan digolongkan kepada spesifikasi perairan. Hasil praktikum menunjukkan nilai parameter kimia, biologi dan fisika yang tergolong rendah dari skala normalnya. Sehingga sungai Tambak Bayan dapat diklasifikasikan ke dalam sungai yang tercemar oleh berbagai macam limbah
Kata kunci : densitas, kualitas air, parameter lingkungan, pencemaran, sungai
PENDAHULUAN
            Ekosistem dapat diartikan sebagai suatu kesatuan dinamis yang terdiri dari berbagai spesies makhluk hidup yang saling berinteraksi, termasuk di dalamnya komponen biotik dan abiotik (Asdak,2002). Air adalah komponen terpenting dalam sebuah kesatuan ekosistem perairan. Keterkaitan dalam sebuah hubungan inilah yang menjadi kajian terpenting dalam ekologi. Sungai merupakan sumber air terpenting dalam kehidupan. Sungai sering dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Tenaga aliran sungai pun tidak jarang dimanfaatkan sebagai sumber energi pembangkit listrik, sehingga kajian tentang kualitas sungai menjadi sangat penting untuk dilakukan.
            Metode sampling biotik yang umum digunakan adalah metode plot. Biasanya berbentuk segi empat atau persegi (kuadrat) ataupun lingkaran. Dapat digunakan untuk sampling tumbuhan darat, hewan-hewan sessile atau bergerak lambat. Untuk sampling invertebrata bentos dalam sungai biasanya digunakan plot dengan ukuran 31,6 cm x 31,6 cm. Penentuan lokasi plot dapat dilakukan secara acak atau sistematis untuk meminimumkan bias (Soegiono, 1994). Faktor-faktor ataupun fenomena yang terjadi di sungai sehingga mempengaruhi kehidupan flora dan fauna yaitu, kecepatan arus, erosi, dan sedimentasi (Effendi, 2003). Kecepatan arus dan pergerakan air sangat dipengaruhi oleh jenis bentang alam, jenis batuan dasar, dan curah hujan (Jeffries dan Mills, 1996). Perbedaan jenis sedimen dasar mempengaruhi karakteristik kimia air sungai, dan porositas dasar sungai. Sedimen dasar sungai dapat berupa batu kali, bulder, kobbel, pebel, kerikil, pasir, lumpur, dan tanah liat (Haslam, 1995).
            Karakteristik ekosistem sungai dan faktor-faktor pembatasnya dipelajari dengan cara pengambilan data dari berbagai parameter (fisik,kimia dan biologi). Korelasi antara beberapa tolak ukur lingkungan dengan populasi biota peraiaran (plankton/makrobentos) juga dipelajari kemudian ditentukan kualitas perairannya berdasarkan indeks diversitas plankton. Hal inilah yang mendasari tujuan praktikum. Berdasarkan analisa kandungan unsur-unsur kimia pada indikator biologi maupun fisik dapat dijadikan petunjuk ada tidaknya perubahan lingkunagn dari keadaan seimbangnya (Marsono,20004). Perubahan dari keadaan seimbang tersebut dapat dijadikan acuan untuk membandingkan kualitas suatu peraiaran yang baik atau tercemar.

METODOLOGI
            Praktikum dilaksanakan pada hari Kamis, 22 Maret 2012 di Sungai Tambak Bayan. Langkah kerjanya dimulai dengan membagi perairan sungai menjadi empat stasiun pengamatan. Kemudian pada masing-masing stasiun mengambil cuplikan makrobentos dengan menggunakan plot dari kayu dan pengidentifikasian dilakukan dengan bantuan mikroskop. Densitas makrobentos dinyatakan dalam satuan individu per luas plot, sedangkan indeks diversitas (indeks keanekaragaman) makrobentos dihitung dengan rumus Shannon-Wiener:   dengan H=indeks keanekaragaman, ni=cacah individu suatu genus, N=cacah individu seluruh genera. Selain itu, dilakukan pengukuran parameter lingkungan seperti suhu air dan udara, kecepatan arus (jarak per waktu), debit air () dengan w=lebar, d=kedalaman, A=konstanta dasar perairan, l=panjang, t=waktu. Juga pengukuran pH, kandungan oksigen terlarut (DO), kandungan CO2 bebas dan alkalinitas dengan metode alkalimetri, serta dicatat flora dan fauna sekitar. Rumus DO metode Winkler (). Rumus kandungan CO2 bebas ). Rumus alkalinitas (), dengan V adalah volume titrasi.
            Bahan-bahan yang digunakan yaitu larutan MnSO­4, reagen oksigen, H2SO4 pekat, 1/80N Na2S2O3, KOH-KI, 1/40N Na2S2O3, 1/44N NaOH, 1/50N H2SO4, 1/50N HCl, indikator amilum, indikator Phenolphtalein (PP), indikator Methyl Orange (MO), indikator Bromcresol Green/Methyl Red (BCG/MR), dan larutan formalin 4%. Sedangkan peralatannya berupa pH-meter, bola tenis meja, stopwatch, roll-meter, penggaris, termometer, botol oksigen, Erlenmeyer, gelas ukur, pipet ukur, pipet tetes, mikroburet, ember plastik, Petersen grab, surber, plot kayu, sikat halus, kuas halus, saringan (seine), mikroskop, kertas label, dan alat tulis.




HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel Data Hasil Pengamatan Ekosistem Sungai
Parameter
Stasiun
I
II
III
IV
Fisik




   Suhu udara (°C)
27
27
26,1
26
   Suhu air (°C)
27
26
28,5
26,3
   Kecepatan arus (m/s )
0,49
0,67
0,67
0,11
   Debit (m3/s)
0,69
4,5
2,21
0,4
Kimia




   DO (ppm)
6,38
6
6,34
4,1
   CO2 (ppm)
9,5
8,7
10,3
13
   Alkalinitas (ppm)
112
109,5
110,5
104
   pH
7,15
7,36
7,7
7,5
Biologi




   Densitas plankton (idv/L)
72
52
122
225
   Diversitas plankton
2,43
1,97
2,65
2,34
   Densitas Makrobentos (idv/m2)
312
162
6
69
   Diversitas Makrobentos
1,24
1,5
0
1,24
   Densitas Gastropoda (idv/m2)
34
0,22
20
1
Cuaca
Mendung
Mendung
Mendung
Mendung
Keterangan
Tertutup vegetasi lebat
Dasar perairan berbatu dan berlumpur
Tertutup vegetasi lebat
Dasar perairan berbatu dan berpasir
Tertutup vegetasi lebat
Dasar perairan berbatu dan berpasir
Tertutup vegetasi lebat
Dasar perairan berbatu dan berpasir

            Pengamatan parameter dibagi menjadi parameter fisik, kimia, dan biologi. Parameter fisik mencakup parameter suhu, udara & air, kecepatan, dan debit. Suhu merupakan variabel lingkungan penting bagi organisme perairan karena mempengaruhi aktivitas metabolisme kehidupan. Berdasarkan pengamatan, suhu air & udara pada stasiun III adalah 28,5oC. Suhu air yang relatif lebih tinggi disebabkan karena air memiliki kerapatan molekul yang lebih rendah.
            Kecepatan arus merupakan ciri utama perairan lotik yang sangat berpengaruh dalam asimilasi dan pengangkutan suspensi. Kecepatan arus stasiun III bernilai 0,67 m/s. Hal ini disebabkan oleh kontur tanah yang relatif datar dan dasar sungai yang berbatu. Debit merupakan volume air mengalir dalam selang waktu tertentu. (Haslam, 2001). Lebar sungai dan kedalamannya menjadi faktor penting dalam menentukan debit. (Effendi, 2003). Nilai debit pada stasiun III adalah 2,21 m3/s.
            Pengamatan parameter kimia meliputi kandungan DO, CO2 dan alkalinitas. DO pada stasiun III adalah 6,34 ppm. Kandungan CO2 pada stasiun III adalah 10,3 ppm, hasil tersebut tergolong tinggi, karena sifat CO2 yang memiliki sifat kelarutan yang tinggi sehingga keberadaannya relatif tinggi di perairan. (Effendi, 2003). Alkalinitas adalah konsentrasi total dari unsur basa. Nilai alkalinitas stasiun III adalah 110,5 ppm. Nilai ini dipengaruhi oleh berbagai parameter, misalnya pH, komposisi mineral, suhu, dan kekuatan ion. pH merupakan drajat keasaman suatu substansi. pH pada stasiun ini adalah 7,7. Hal ini dipengaruhi oleh alkalinitas yang mampu menjaga kenetralan pH. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah. Toksisitas logam memperlihatkan peningkatan pH rendah.(Novotny dan Olem, 1994).
            Kandungan DO dan CO2 dalam air sangat dipengaruhi oleh suhu air dan udara. Semakin rendah suhu perairan maka kandungan DO akan semakin tinggi dan berbanding terbalik dengan kandungan CO2 yang semakin rendah. Hampir dapat dipastikan, bila dalam suatu perairan memiliki nilai CO2 yang tinggi maka alkalinitasnya akan tinggi pula disertai dengan peningkatan nilai pH meskipun tidak terlalu signifikan.
            Pengamatan parameter biologi meliputi  densitas dan diversitas plankton serta densitas dan diversitas makrobentos.  Densitas dan diversitas plankton dapat dijadikan indikator dalam menelaat kualitas suatu periran karen perairan yang subur cenderung mengandung plankton dlm jumlah besar. Nilai densitas dan diversitas stasiun III berturut-turut adalah 122 ind/L dan 2,65 . Nilai ini tergolong baik bila disesuaikan berdasarkan klasifikasi kualitas perairan sebagai berikut:

Tabel Kualitas Perairan

Tolak Ukur
Kualitas Perairan
1
2
3
4
5
Sangat Buruk
Buruk
Sedang
Baik
Sangat Baik
Indeks Diversitas
≤ 0,80
0,81-1,60
1,61-2,40
2,41-3,20
≥3,21
(Sumber: Probosunu,1991)

Densitas dan diversitas makrobentos juga dapat dijadikan indikator dalam menelaah kualitas suatu perairan karena perairan yang subur cenderung memiliki makrobentos dalam jumlah besar dan beragam. Nilai densitas dan diversitas stsiun III berturut-turut adlh 6 ind/L dan 0. Nilai ini tergolong pada derajat pencemaran yang  sangat tercemar atau tercemar berat  bila disesuaikan berdasarkan klasifikasi derajat pencemaran perairan sebagai berikut :






Tabel Derajat Pencemaran

Tolak Ukur
Derajat Pencemaran
1
2
3
4
Belum Tercemar
Tercemar Ringan
Tercemar Sedang
Tercemar Berat
Indeks Diversitas
>2,0
1,6 – 2,0
1,0 – 1,5
<1,0
            (Sumber: Probosunu,1991)

Rendahnya kualitas air dan derajat pencemaran yang tinggi pd sungai diakibatkan olh kondisi lingkungan sungai (berada pd lingkungan perkotaan) yang tercemar.  Pencemaran ini  diakibatkan oleh limbah-limbah deterjen dan sampah yang dibuang ke sungai.
            Pengaruh dan penyebab jeleknya skala kualitas lingkungan biotik ini disebabkan oleh faktor yang sama dgn penyebab rendahnya densitas dan diversitas plankton dan makrobentos karena masih tergolong biota akuatik yang rentan pada pencemaran air yang berlebihan. Ekosistem sungai terdiri atas komponen biotik dan abiotik yang memungkinkan terjadinya korelasi antara parametr fisik, kimia dan biologi. Densitas dan diversitas plankton dipengaruhi dan berbanding lurus dengan kandungan oksigen serta berada stabil pada kestabilan nilai pH dan suhu air/udara. Sebaliknya, berbanding terbalik dengan kandungan CO2, alkalinitas dan kecepatan/debit air. Seperti halnya plankton, makrobentos yang merupakan organisme akuatik memiliki kesamaan sifat dan hubungan antar parameter di atas, sehingga analisa densitas dan diversitas organisme akuatik dapat ditelaah dari hasil/nilai parameter kimia dan fisik seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
            Berdasarkan data hasil pengamatan antara tiga wilayah (hulu, hilir dan tengah) pada parameter fisik terjadi perbedaan yang disebabkan perbedaan karakteristik dan kondisi daerah. Rata-rata suhu air di hulu lebih rendah dari pada suhu air pada hilir sungai. Menurut Victor dan Fufeyin (1995), perbedaan suhu air dari hulu dan hilir disebabkan oleh suhu udara dan ketinggian tempat. Rata-rata debit pada sungai mengalami kenaikan, lalu mengalami penurunan kembali saat sampai di stasiun terakhir. Hal tersebut dipengaruhi oleh kemiringan, kekasaran substrat dan kedalaman serta lebar sungai.
            Berdasarkan parameter kimia, ratarata kandungan DO pada wilayah hulu paling tinggi disebabkan kecepatan arus yang kuat. Arus air akan mempercepat proses absorbsi sungai sehingga proses dekomposisi meningkat. Peningkatan proses dekomposisi akan menyebabkan DO menurun dan CO2 meningkat. Hal inilah yang menyebabkan kadar DO semakin rendah ke hilir (Fauzi,2001). Berdasarkan pengamatan, kadar DO di wilayah tengah justru mengalami penurunan. Nilai CO2 berbanding lurus dengan nilai pH. Semakin ke hulu semakin netral. Tetapi pada data didapati kenaikan di tengah.  Hal ini disebabkan pencemaran berlebihan berupa limbah sabun dan sampah pada perairan tengah. Ditinjau dari nilai CO2. yang berbanding terbalik sehingga nilai CO2 semakin rendah ke daerah hulu.
            Berdasarkan parameter biologi, rata-rata densitas dan diversitas plankton paling tinggi berada di wilayah hilir. Hal ini dipengaruhi kecepatan arus yang semakin cepat ke arah hilir, kecepatan arus inilah yang membuat penyebaran dan distribusi plankton lebih intensif ke arah hilir karena karakteristik hidup plankton yang bebas/melayang mengikuti arus air. Sama halnya dengan densitas dan diversitas makrobentos. Semakin ke arah hilir, densitas dan diversitasnya semakin rendah karena arus sungai tidak berpengaruh pada makrobentos karena hidupnya yang melekat pada substrat. Tingkat pencemaran air berdasarkan makrobentos yaitu, tengah > hilir > hulu. Hal ini bertentangan dengan teori karena seharusnya kecepatan arus yang tinggi menyebabkan parameter makrobentos semakin tinggi ke daerah hilir, dan membuat daerah hilir menjadi daerah dengan tigkat pencemaran yang paling rendah. Akan tetapi, karena faktor lingkungan dan vegetasi alam pada daerah/wilayah sungai yang berbeda menyebabkan penyimpangan ini terjadi. Daerah/wilayah tengah memiliki tingkat pencemaran tertinggi karena adanya limbah sabun dan sampah berlebih di sekitar sungai serta vegetasi lingkungan yang rendah di daerah perkotaan.

KESIMPULAN
            Karakteristik sungai meliputi pergerakan air, jenis sedimen dasar, erosi dan sedimentasi dengan kecepatan arus sebagai faktor pembatasnya. Setiap parameter fisik, biologi dan kimia selalu berhubungan dan menimbulkan dampak atau pengaruh pada rendah dan tingginya nilai parameter tersebut. Populasi biota peraiaran berbanding lurus dengan kecepatan arus dan DO berbanding terbalik dengan kadar CO2 dan alkalinitas serta normal pada suhu dan pH yang stabil. Semakin tinggi diversitas plankton suatu perairan maka kualitas pencemarannya  akan semakin rendah sebaliknya,semakin rendah diversitas plankton maka pencemarannya semakin tinggi.

SARAN
            Sebaiknya masyarakat sekitar sungai menjaga kebersihan dan ketertiban dengan tidak membuang limbah berbahaya dan sampah ke dalam sungai agar ekosistem sungai berjalan stabil dengan tingkat pencemaran yang sangat rendah/tidak ada sama sekali. Bila ekosistem sungai terganggu maka dampak buruk berupa kawasan sungai yang tercemar, beracun bahkan banjir akan mengganggu aktivitas masyarakat sendiri. Sebaiknya praktikum dilakukan secara sungguh-sungguh, agar pengambilan data tidak sembarangan dan mendapatkan hasil yang valid.

DAFTAR PUSTAKA
Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada
            University Press. Yogyakarta.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta.
Fauzi, M. 2001. Faktor Fisika dan Kimia Air Sungai. Universitas Riau. Riau.
Haslam, S. M. 1995. River Pollution and Ecological Perspective. John Wiley and Sons. Chichester. UK.
Jeffries. M. and Mills. D. 1996. Freshwater Ecology, Principles, and Applications. John Wiley and Sons. Chichester. UK.
Marsono. 2004. Pengelolaan Sumber Daya Air. Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL).
            Yogyakarta.
Novotny, V and Olem. 1994. Water Quality, Prevention, Identification and Management of
            Diffuse Pollution. Van Nostrans Reinhold. New York.
Probosunu, N. 1999. Pengantar Pengendalian Pencemaran Perairan. Jurusan Perikanan
            Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Soegiono, A. 1994. Ekologi Kuantitatif. Usaha Nasional. Surabaya
Victor and Fufeyin. 1993. Tropical Zoology. Fish Communities. Nigeria.

0 comments:

Post a Comment